“Keuangan Berkelanjutan pada Era Digital; Driving Innovation in Financial Technology and Islamic Finance Adaptation

Keuangan berkelanjutan mengacu pada proses yang mempertimbangkan environmental, social dan governance (ESG) saat membuat keputusan investasi di sektor keuangan, yang mengarah pada peningkatan investasi jangka panjang ke dalam kegiatan dan proyek ekonomi berkelanjutan. Keuangan berkelanjutan dipahami sebagai keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan dan memperhatikan aspek sosial dan tatakelola. Keuangan berkelanjutan juga mencakup transparansi risiko terkait faktor ESG yang dapat berdampak pada sistem keuangan, dan mitigasi risiko tersebut melalui tata kelola yang tepat dari pelaku keuangan dan korporasi.

Keuangan Islam telah muncul sebagai alat yang efektif untuk mendanai pembangunan di seluruh dunia, termasuk di negara-negara non-Muslim. Pasar keuangan utama menemukan bukti kuat bahwa keuangan Islam telah diarusutamakan dalam sistem keuangan global dan berpotensi untuk membantu mengatasi tantangan dalam mengakhiri kemiskinan ekstrim dan meningkatkan kemakmuran bersama (Bank dunia, 2015). Di banyak negara mayoritas Muslim, aset perbankan Islam telah tumbuh lebih cepat daripada aset perbankan konvensional. Ada juga lonjakan minat dalam keuangan Islam dari negara-negara non-Muslim. Keuangan Islam equity-based, asset-backed, ethical, sustainable, environmentally, dan socially-responsible finance. Hal ini menekankan pada pembagian risiko, menghubungkan sektor keuangan dengan ekonomi riil, dan menekankan inklusi keuangan dan kesejahteraan sosial.

Dalam pandemi COVID 19, dan kesulitan yang ditimbulkannya pada banyak orang telah menimbulkan banyak pertanyaan tentang stabilitas dan keberlanjutan sistem keuangan konvensional. Ada panggilan untuk sistem alternatif yang dapat melayani kepentingan jangka panjang masyarakat sambil menambah nilai pada ekonomi riil. Banyak pengamat percaya bahwa sistem keuangan Islam dapat memberikan alternatif seperti itu, memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pasar keuangan global yang berkelanjutan. Prinsip keuangan Islam memiliki ikatan yang kuat dengan stabilitas keuangan dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam konteks bisnis global. Mereka menawarkan kebersamaan, keberlanjutan, kepentingan dalam bisnis semua pihak terkait dan kepentingan dalam keberhasilan hasil akhir. Prinsip keuangan Islam berfungsi untuk melindungi sistem keuangan Islam dari leverage yang berlebihan, spekulasi dan ketidakpastian, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan stabilitas keuangan dan kesinambungan jangka panjang. Akibatnya, penerapan prinsip-prinsip keuangan Islam diantisipasi untuk tumbuh, tidak hanya di pasar keuangan negara-negara Muslim, tetapi juga di pasar yang peduli dengan tujuan yang bertanggung jawab secara sosial dan solusi keuangan yang etis (IISD Report, Juli 2013)

Terkait dengan hal tersebut diatas, dan dalam rangka mewujudkan Visi STIE IBSMenjadi Perguruan Tinggi unggul sebagai penyedia sumber daya manusia berkualitas yang berwawasan global di bidang keuangan dan bisnis berbasis teknologi digital, dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta menambah pengetahuan masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya, maka STIE Indonesia Banking School akan melaksanakan SEMINAR NASIONAL yang akan dilaksanakan pada 27 Oktober 2021 dengan tema “Keuangan Berkelanjutan pada Era Digital; Driving Innovation in Financial Technology and Islamic Finance Adaptation” yang dibagi atas 3 kelompok Bidang Keilmuan yaitu Management & Financial Sustainability, Digital Finance and Marketing dan Islamic Finance and Banking.

Seminar Nasional ini nantinya akan bisa menampung semua hasil penelitian Dosen, dan mahasiswa IBS kususnya dan Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia, dan peneliti lainnya serta mahasiswa seluruh Indonesia.

Kegiatan Seminar Nasional ini akan dilaksanakan oleh STIE IBS serta Perguruan Tinggi yang telah melakukan MOU dengan IBS seperti Universitas Tarumanegara, Universitas Atmajaya, Universitas Mercu Buana dan banyak lagi yang lain.

Selanjutnya, Seminar Nasional ini akan dilaksanakan secara virtual dan berbayar, biaya registrasinya untuk presenter Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah), sebagai partisipan tidak dipungut biaya atau gratis.  Untuk perguruan tinggi yang sudah atau belum bekerja sama dapat bergabung sebagai Co-Host dengan jumlah pembayaran Rp.1.500.000,-(satu juta lima ratus ribu rupiah). Benefit Co-Host diantaranya pemasangan logo pada Cover Prosiding (full colour), back drop seminar nasional dan dapat mengirim presenter sebanyak 4 (empat) orang.

Untuk kelancaran pelaksanaan Seminar Nasional perlu dibentuk sebuah panitia pelaksana yang melibatkan Civitas Akademika STIE IBS. Untuk kelancaran pelaksanaan Seminar Nasional ini, maka proposal ini perlu didiskusikan secara matang di tingkat pimpinan IBS.